Kenapa Anak Sekarang Balik ke Vinyl? Bukan Gaya-Gayaan Doang
Gen Z mendominasi pembeli rilisan fisik di toko-toko independen. Ada alasan yang lebih dalam dari sekadar estetik feed.

Toko rilisan fisik independen di berbagai kota Indonesia melaporkan hal yang sama: pembeli termuda mereka makin muda. Gen Z kini kelompok paling dominan — bahkan mulai merambah usia sekolah. Di era streaming, ini bukan anomali kecil.
Tanda-tandanya di mana-mana: Record Store Day yang tumbuh tiap tahun, bursa vinyl dan sesi dengar bersama yang rutin digelar komunitas, sampai marketplace besar yang membuka kategori khusus vinyl dan kaset.
APA YANG DICARI?
Kepemilikan, pertama-tama. Streaming itu sewa; koleksi bisa hilang karena lisensi. Piringan hitam ada di rak kamu, dengan artwork sebesar wajah dan liner notes yang bisa dibaca tanpa layar.
Kedua: ritual. Menurunkan jarum itu perlawanan kecil terhadap autoplay — kamu memilih mendengarkan, bukan disuguhi.
Ketiga, dan paling penting buat skena: uangnya lebih banyak sampai ke band. Margin rilisan fisik jauh lebih masuk akal daripada perpuluhan sen per stream.
Jadi kalau ada yang bilang ini tren gaya-gayaan — biarkan. Selama kasir toko rilisan terus berbunyi, band bisa terus rekaman.
Diramu ulang dari liputan Tirto, Gigsplay, dan ANTARA.
Ditulis oleh
Raddict Admin