Bogor dan Tiga Gelombang Skenanya: Kenapa Kota Hujan Tidak Pernah Sepi
Dari Mary Ann era 90-an, era emas 2000-an, sampai gelombang Hujan! Rekords — peta singkat skena kota yang tidak pernah benar-benar diam.
Bogor selalu dibayangi Jakarta dan Bandung dalam cerita musik independen Indonesia. Padahal Kota Hujan punya tiga gelombang skena yang utuh — dan ketiganya masih bisa dilacak jejaknya sampai hari ini.
GELOMBANG PERTAMA: AKHIR 90-AN
Mary Ann berdiri akhir 1997 di Cisarua membawa punk rock. Revolt menyusul dengan hardcore pada 1998, tahun yang sama dengan unit ska-punk Not For Child. Di jalur lain ada Brown Sugar dan Piknik yang membawa britpop. Fondasinya beragam sejak awal.
GELOMBANG KEDUA: ERA EMAS 2000-AN
Ini masa Topi Jerami, My First Wet Dream, dan Losing Friends membesarkan pop punk Bogor; Full of Envious di sisi metal; The Jaka Sembung merintis rock n roll. Kompilasi seperti "Putih dalam Abu" (2006) dan "Shall We Go Now" (2007) merekam eranya, sementara The Safari melepas "Material Dansa Galau" (2007) dari sisi disco-punk.
GELOMBANG KETIGA: HUJAN! REKORDS DAN SETELAHNYA
Tahun 2009 Gilang Nugraha mendirikan Hujan! Rekords — label kolektif yang jadi rumah A Curious Voynich, The Kuda, Texpack, dan banyak lagi. Gelombang ini melebar ke mana-mana: noise, indie rock, post-hardcore, sampai surf pop ala The Mentawais. Hari ini nama seperti The Jansen membawa bendera Bogor ke panggung nasional.
Tiga gelombang, tiga generasi, satu kota. Dan di Raddict, profil band-band Bogor ini sedang kami arsipkan satu per satu — kalau kamu bagian dari sejarahnya, bantu lengkapi lewat "Sarankan edit" di halaman band masing-masing.
Diramu ulang dari esai Whiteboard Journal "Jelajah Skena Bogor: Dari Punk Rock Hingga Surf Pop".
Ditulis oleh
Raddict Admin